Cerita ini adalah kisahku hari itu, Selasa 22 April 2008.
Hari itu kuawali dengan bangun siang setelah menunaikan sholat subuh dan murajaah, tilawah dan dzikir pagi. Kali ini yang menyebabkan aku bangun siang karena senin malam aku ngenet sampe dini hari.
Pukul dua pagi aku baru pulang dari ruang server SGB VEDC, nemani mas Arif jaga pelatihan JENI. Awalnya aku ngent biasa ngecek email dan inquiry dari situs jualanku edutronik.com.
Namun, karena muncul ide bikin blog maka aku putuskan aku malem itu juga bikin di wordpress. Mulanya bingung mau dikasih nama apa ya.. Akhirnya setelah sekian lama mencoba dan gagal alias nama domain itu sudah kepake.
Muncul ide dari nama salah satu makanan kesukaan, Ya.. Klepon. Lalu namanya jadilah kleponku.wordpress.com.
Stelah puas dan bangun sendiri, aku lihat jam sudah sekita pukul 08.30 pagi. Aku lihat ada sms, dari Pak Ahmad PLN Jepara yang pesan Petrafuzz kepadaku. Dia sudah transfer uangnya dan ngasih alamatnya.
Namun sebelum itu ada sms dari yang spesial dihati, tanya registrasi jempol ke bebas. Akhirnya aku bergegas mandi dan sperti biasa sholat dhuha 4 rakaat saja. Lalu pinjam motor mas Eko dan helm mas Arif (Dasar gak modal..hehe)
berangkat ke Digizer bendungan Sutami buat pasok barang. Sedianya mau beli petrafuzz dan tutorial pack.
Aku putuskan untuk ngambil uang transferan pak Ahmad dulu di ATM Mandiri depan univ. Widyagama jalan terusan Borobudur. Jalan ini adalah jalan menuju ke rumah Ustadz Usamah yang biasa aku kajian disana.
Nah aku parkirkan motor, lalu aku masuk ke kabin ATM dan aku cek. SUdah masuk kiriman pak Ahmad. Ok aku waktu itu ambil 750 ribu, 325 untuk petrafuzz, 410 ribu untuk tutorial pack, sisanya buat biaya kirim.
Lalu aku keluar. Didepan pintu keluar itu melihat nenek yang iba hati melihatnya. Duduk meleseh, memelas disektarnya ada sisa mie ayam di mangkok, kelihatannya baru saja ia makan. Lalu aku lewati saja kearah motorku parkir. Aku
bayar parkir dan kembali 500 perak. Sedang dikantongku ada 5000. Aku bingung,.. beberapa waktu lalu aku muhasabah, aku tuliskan nasihat untuk diriku sendiri. Diantaranya aku ini pelit maka keluarkanlah sedekahmu..
Tanpa pikir panjang yang semula 500 itu aku putuskan 5000 nya saja yang keluar. Lalu kuberikan pada nenek tua itu. Aku masukkan pada tempat uang dia menampung belas kasih dari orang lain itu, lalu aku pergi. Tak berapa lama aku berpikir..
Kenapa tidak minta doa dari dia??! Lalu aku balik lagi. Aku hampiri dia dan cerita keadaanku begini begitu dan aku minta doanya supaya sukses. Yang terpenting aku bilang padanya : “Mbah tolong doakan saya supaya mudah kuliah ke Arab..”
lalu dia jawab Amin amin.. dan keluarlah banyak doa dari mulutnya. Stelah kulihat dengan seksama ternyata dia seorang yang kusta, jari-jari kedua tangannya sudah habis termakan bakteri jahat itu. Aku salami dia dan dia tak henti-hentinya
berdoa untukku. Salah satu doanya yang palin kuingat adalah dia mintakan kepada Allah supaya aku dapat jodoh yang cantik lagi sholihah. Subhanallah, seakan dia tahu keadaanku saat ini. Amin..amin, Sahutku.
Tak cukup sampe disitu dia ceritakan kepadaku, bahwa salah satu anaknya (mungkin cucu yang dimaksud) dulu masuk STAN dan pas penerimaan itu sakit2an kena tipes. Dia terpaksa mengemis karena keadaan memaksanya.
Stelah dirasa cukup berdialog aku mulai berangkat ijin kepadanya, sekali lagi dia ucapkan doa untukku dan memberi saran untuk banyak-banyak solat malam, istikhoroh. Ucapkan lahaulawalquwwata illabillah dst.. “Mulailah jam 2 ya nak”, katanya.
Lalu aku berangkat menuju motorku dan pergi menuju Digizer, sepnjang perjalanan aku merasa puas dengan apa yang aku perbuat tadi dan bersyukur kepada Allah. Aku merasa ada kepuasan batin tersendiri.
Alih-alih menceritakan perjalanan ke digizer lebih baik aku ceritakan si Blasteran Liberal itu yang sampe dini hari selasa itu aku chatting sama dia. Sebelum kuceritakan betapa bahaya orang-orang berpahaman seperti dia ini aku perkenalkan dia dahulu.
Namanya Sofieroh Goldstein. Ya nama blasteran. Bapaknya dari Jerman ibunya orang Jogja. Nenek dari ibunya di Bantul. Goldstein adalah nama marganya, yaitu Bapak Sosiologi Jerman. Dia pernah ceritakan pas awal-awal aku kenal sama dia di chatting (Dapet ID nya dari kakakku) kisah pertemuan ibu dan bapaknya itu.
Berawal dari Bapaknya yang seorang arsitek itu ingin mencari inspirasi gambar bangunannya ke Amerika. Setelah berkeliling, akhirnya dia berhenti dan menetap sementara di sebuah kota di AS. Disanalah dia bertemu calon istrinya yang waktu itu bekerja part time sebagai pelayan disebuah resto cepat saji. Disamping kesibukannya kuliah Universitas Kristen. Akhirnya karena seringnya dia bertemu kepada pelayan itu dia pun jatuh hati. Tak berapa lama si Bapak Sofi ini harus pulang sedangkan dia belum ungkapkan
perasaannya pada orang indonesia tadi. Lalu dia minta nomer telpon dan alamat kosnya kepada rekan kerjanya. Lalu dia pulang ke Jerman. Lalu terjadilah korespondesi surat antar keduanya. Lalu cinta bersemi.. (Gombal..).
Lama kelamaan maka jadilah mereka nikah. Lalu lahirlah Sofi yang sombong itu. sbelumnya kakaknya. Sekarang kakaknya kuliah teknik Geodesi di Amerika.
Kembali ke kisah chattingku sama Sofi. Waktu itu pukul 00.14 waktu malang. Sedang waktu Dusseldorf Kotanya Sofi baru jam 19.00. Aku mulai tanya kabarnya, lalu sedikit intermezzo dan guyonan.
Lalu dengan keisengan aku angkat tema Film Fitna Gert Wildeers itu. Dari sinilah dia kuketahui juga bersikap sama dengan Gert. Dia bilang, “orang bebas menentukan fikirannya kalau dia suka mau apa lagi..” wah berat sekali kalo begitu.
Dia tanya.. Kalo melarang membuat masjid gimana? , aku jawab : ” ya kalo diperlukan kenapa dilarang..” malah dia menjebakku. Katanya aku sama dengan Wilder, lebih lanjutkan dia katakan : “kalau mereka butuh untuk mengeluarkan kata kata politiknya”. Jadi itulah yang sebenarnya yang diingini Wilder kataku dihati.
Lebih jauh lagi dia kok trus menghina, :” masjit dengan menara yang tinggi kan nggak ada gunanya merusak pemandangan saja,kan tidak boleh mengeluarkan suara dari menara itu..” Aku trus tanya kalo greja gimana? kalo Hotel gimana? khan sama merusak pemandangan khan? “
Dia jawab : “kan ini orang asli…mereka orang pendatang, jangan lupa lho..” Baru sekarang aku berpikir, Nah kalo liberal bebas mengungkapkan pendapat politiknya nah kenapa ini dikekang, Kalo mereka boleh membangun Gereja tinggi dan keluarkan suara kenapa muslim nggak boleh bangun masjid dan Adzan?? bukannya ini justru
bertentangan dengan prinsip liberalisme yang sebebas-bebasnya itu?!! Begitulah prinsip yang dibuat manusia, yang ada hanya kelemahan dan ketimpangan disegala sisinya. Berbeda dengan prinsip Islam yang samawi langsung dengan firman Allah, yang sempurna.
Bahkan cerita dari sebagian ikhwan, disana itu adzan saja online diinternet dan melihat dengan penuh keheranan orang yang sedang berciuman di umum bisa dituntut ke pengadilan. Sekali lagi benar Sabda Rasulullah bahwa nanti akan datang masa dimana orang tidak akan malu-malu lagi berbuat keji dimuka umum.
dan ini sudah terjadi dinegara-negara liberal seperti Perancis dan Belanda ini.
Sekarang yang digugat oleh Sofi ini adalah sikap sebagian muslim disana yang mau saja menerima uang jatah pengangguran, yang memang notabene disana ada jatah bagi pengangguran bahkan preman sekalipun. Dengan dalih ini dia menggugat bahwa muslim yang menerima uang jatah pengangguran itu menganggur karena keluar kerja
disebabkan ikhtilath (Campur laki perempuan) ketika kerja. Jangan bayangkan disana perempuannya seperti di Indonesia, ada yang jilbab dan yah paling nggak tertutup (walapun tidak menafikan yang lain yang lebih parah). Tapi disana perempuannya pada mengumbar aurat. Bagaimana seorang muslim yang taat tahan bekerja ditempat seperti itu jikalu tidak terpaksa?
Ya si Sofi menyalahkan sikap muslim yang mau menerimanya tanpa penolakan. Bahkan dia bandingkan dengan sikap orang yahudi yang nganggur, dia katakan kalau orang yahudi itu nganggur tapi mereka menolak uang jatah itu. berbeda dengan muslim, tegas Sofi.
wah parah sekali pemerintahan mereka. Aku bantah, ya seharusnya pemerintah proporsional berikan pada yang betul2 membutuhkan. Kalau si muslim masih sanggup untuk tidak menerima uang tsb kenapa harus diberi? atau ini salah satu cara untuk membuat dalih sekian kesalahan muslim Belanda dimata dunia. semoga Allah menghinakan mereka yang telah menghinakan agama yang mulia ini.
Lebih lanjut dia angkat tema, tentang pelarangan kegiatan keagamaan orang Belanda di Arab. Dia katakan : “mengapa orang philipa (sebutan orang Belanda -red) yang di saudi tidak boleh berkumpul di rumah untuk beribadah sering berita berita ini datang di barat.munking dibesar besarkan ya tidak tau..” .
Ya memang musuh Allah yang satu ini lumayan pandai mengacaukan suasana.
Lalu aku beri dia saran untuk lebih mempelajari Al Qu’an dengan kejernihan hati, aku harap engkau dapatkan hidayah yang bijak lagi banyak karena aku yakin dia belum tahu banyak tentang Islam. E.. dia menimpali dengan sombongnya : “kalau tidak merasa perlu, mengapa harus belajar, belajar itu kalau perlu, kalau tidak perlu kan membuang buang waktu”. Dasar liberal..
Dia ceritakan bahwa berita perbuatan Wilder ini di Eropa tidaklah terlalu heboh seperti diberbagai negara lain, tidak ada yang beri reaksi, katanya.
Karena sudah larut sekali dan mas Arif ngajak aku pulang maka aku segera bilang padanya aku mau off. Lalu aku tantang padanya, tolong pendapat kamu ini kamu tulis pada sebuah blog atau kirimkan saja ke emailku. Jangan lupa sebutkan sumber-sumber rujukannya dan orang-orang yang mendukung pendapatnya itu. Dia menimpali, “kaya nggak ada waktu aja, kaya banyak waktu aja, saya kurang interest dengan mereka “.
Lalu aku bilang jangan pengecut dong.. e malang ngejek aku, kamu kok kaya orang UNEDUCATED gitu sih.. Walah dasar-dasar..diajak debat baik-baik dengan tulisan nggak mau.
Ya sudah aku putuskan off segera.
entah bagaimana Sikap dia denganku saat ini. yang jelas selama dia masih bersikukuh dengan pemikirannya itu maka aku katakan padanya (mencontoh ucapan Ibnu Umar RA ketika menghadapi orang yang bertanya tentang fitnah orang yang tidak percaya Taqdir di Kufah) : Maka katakan pada mereka: ” Aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dari Ibnu umar, Demi Allah seandainya mereka bersedekah emas sebesar gunung Uhud niscaya tidak akan Allah terima sampai mereka beriman kepada Taqdir..”. Tapi kalimat “sampai mereka beriman kepada Taqdir..” disini aku ganti dengan ” sampai mereka mau bertaubat dari pemahaman Liberalnya dan kembali ke pangkuan Islam..”
Semoga Allah memberikan hidayah padanya dan orang-orang liberal lainnya. Terutama pengikut JIL -Islam liberal- (Jaringan Iblis La’natullah). Dan Kekokohan iman bagi kita semua. Amin.
–
Regards,
Mahfudz Aziz
4th Grade Vocational School of Yogyakarta
HP : 081931723450
Email: azizmahfudz@gmail.com
YM : aziz_mahfudz
http://www.edutronik.com
( Toko Microcontroller )
Visit my weblog :
http://www.kleponku.wordpress.com